Solo jadi tujuan Wisata Kuliner. Kata Kuliner mungkin dekat makna dengan kata Cool Inert (keren dari dalam).
Dari dalam lingkungan Keraton, hingga menyebar ke masyarakat-nya.
Lengkap, olahan aseli pribumi, atau pengaruh budaya Belanda.
Dan tentunya ada pula sentuhan citarasa ala Masyarakat TiongHoa.
Contohnya Serabi Notosuman.
Pertama dipopulerkan oleh pasangan Hoo Geng Hok dan Tan Giok La di Wilayah Notokusuman (disingkat menjadi Notosuman).
Kemudian turun-temurun sampai saat ini generasi ke-4, dengan rasa yang tidak berubah dari awal masa-nya hingga sekarang.
HIK
Kalau di Jogja namanya Angkringan
Tempat makan dan wedangan murah berkualitas.
Nasi Kucing, Wedang Jahe, Teh, Kopi, aneka gorengan, sambil ngobrol, atau mendengarkan obrolan orang.
Menurut asumsi Saya, kata Hik mengacu pada suara orang kekenyangan (jadi
sendawa: sendaugurau dan ketawa)
“Hiiiiikgh... hik.. hik..hik”
Hik tersebar random di seluruh penjuru Kota Solo, pokoknya Hikly Recommended
Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755 memisahkan Solo dengan Jogja
Akibatnya, yang satu Solo Karir, satunya lagi..
seYogyanya juga berkarir
Masing-masing berdiri mengurusi negeri-nya sendiri.
Di Solo muncul makanan khas yakni TimLo
Mungkin dari penggalan kalimat:
"kita ini satu Tim Lo, jangan bercerai berai”
Disimbolkan dengan telur, yang dibelah.
Konon, di Jogja kemudian muncul yang khas juga,
bedanya.. telurnya tidak dibelah.
Lantas orang menyebutnya Good egg (Yu Djum)
****
TimLo semacam sup, terdiri dari rangkaian bahan dengan konfigurasi sempurna saling menguatkan citarasa.
Moral, jadi enak kalau sadar kita itu satu tim, tidak berpecah belah
Karena Kita, Indonesia.
(WLA, 2016)