Showing posts with label kuliner. Show all posts
Showing posts with label kuliner. Show all posts

Saturday, January 14, 2017

Apa Bedanya Solo dengan Surakarta

 
Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Pagi ini jalan jalan mencari udara segar hingga ke tempat ini
Ini adalah Keraton Kasunanan Surakarta. Kalau yang di Jogja namanya Kasultanan.
Bahasa asalnya sebenernya adalah Karaton, ka-ratu-an. Tempat dimana Ratu berada.

Saya suka sejarah, sebelum ada Google saya belajar tentang tempat tempat bersejarah dari baca buku dan mengunjungi langsung obyeknya.

Saya merangkum Jogja Solo seperti ini:
Jogja itu AB, Solo itu AD.
Kalau digabung bisa jadi ABAD
karena perpaduan keduanya adalah Mataram yang berjaya berAbad lamanya.


Pun kalau digabung juga bisa jadi ADAB
negeri dimana kita belajar tatakrama, kearifan, sopan santun, unggah ungguh, budaya ketimuran


Apa bedanya Surakarta dan Solo?

Tahun 1742, Keraton Kasunanan Kartasura diserbu oleh Pemberontak Tionghoa dari Batavia, yang kemudian dikenal sebagai Peristiwa Geger Pecinan. 
Pakubuwono II sebagai Raja Mataram/ Kartasura waktu itu memilih ngungsi ke Ponorogo.

Saat Pakubuwono II kembali lagi ke Kartasura (1743), Keraton-nya sudah hancur.
Beliau-pun lantas memilih memindahkan bangunan Keraton ke Desa Sala (Solo) dan mendirikan kembali kerajaannya dengan nama baru Surakarta Hadiningrat.
Keraton-nya ditempati sejak tahun 1745.

Di Tahun 1745 itulah, Gubernur Jenderal Van Imhoff memerintahkan untuk dibangun sebuah Benteng, kemudian dinamakan Benteng Vastenberg, di seputar Gladak. Bentengnya ini untuk meng-intip kegiatan pemerintahan Kasunanan Surakarta Hadiningrat, karena disinyalir dapat membahayakan kedudukan Kompeni waktu itu.

Tahun 1755, Terjadi Perjanjian Giyanti, antara Kerajaan Mataram yang diwakili Pakubuwono III (putera Pakubuwono II) dengan VOC dan Pangeran Mangkubumi (adik dari Pakubuwono II)
Dari Perjanjian itulah Kerajaan Mataram dipisah menjadi dua, Surakarta dan Yogyakarta.

Jadi, Solo itu awalnya nama Desa tempat dimana keraton Mataram dipindahkan dari Kartasura yang sudah hancur.
Kini penggunan nama Kota Solo lebih familiar diucapkan, menjadi nama beken untuk Surakarta.

Wahyu Liz Adaideaja
instagram: adaideaja

Sunday, December 4, 2016

Serabi Notosuman



Solo jadi tujuan Wisata Kuliner. Kata Kuliner mungkin dekat makna dengan kata Cool Inert (keren dari dalam).

Dari dalam lingkungan Keraton, hingga menyebar ke masyarakat-nya.
Lengkap, olahan aseli pribumi, atau pengaruh budaya Belanda.
Dan tentunya ada pula sentuhan citarasa ala Masyarakat TiongHoa.

Contohnya Serabi Notosuman.
Pertama dipopulerkan oleh pasangan Hoo Geng Hok dan Tan Giok La di Wilayah Notokusuman (disingkat menjadi Notosuman).

Kemudian turun-temurun sampai saat ini generasi ke-4, dengan rasa yang tidak berubah dari awal masa-nya hingga sekarang.

Saturday, December 3, 2016

hiK







HIK

Kalau di Jogja namanya Angkringan
Tempat makan dan wedangan murah berkualitas.
Nasi Kucing, Wedang Jahe, Teh, Kopi, aneka gorengan, sambil ngobrol, atau mendengarkan obrolan orang.

Menurut asumsi Saya, kata Hik mengacu pada suara orang kekenyangan (jadi
sendawa: sendaugurau dan ketawa)
“Hiiiiikgh... hik.. hik..hik”


Hik tersebar random di seluruh penjuru Kota Solo, pokoknya Hikly Recommended

Friday, December 2, 2016

TimLo Solo



Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755 memisahkan Solo dengan Jogja

Akibatnya, yang satu Solo Karir, satunya lagi..
seYogyanya juga berkarir
Masing-masing berdiri mengurusi negeri-nya sendiri.

Di Solo muncul makanan khas yakni TimLo
Mungkin dari penggalan kalimat:
    "kita ini satu Tim Lo, jangan bercerai berai”
Disimbolkan dengan telur, yang dibelah.

Konon, di Jogja kemudian muncul yang khas juga,
bedanya.. telurnya tidak dibelah.
Lantas orang menyebutnya Good egg (Yu Djum)


****

TimLo semacam sup, terdiri dari rangkaian bahan dengan konfigurasi sempurna saling menguatkan citarasa.

Moral, jadi enak kalau sadar kita itu satu tim, tidak berpecah belah
Karena Kita, Indonesia.


(WLA, 2016)

Thursday, December 1, 2016

DiKirimiNasi Tanpa Diskriminasi

Selamat Padi, mari Menikmati SunRice



"I am Going To SekuL"
(Aku pergi ke sekolah, bawa bekal nasi)


Sekolah dan Sarapan Nasi keduanya berkaitan, dalam rangka mendukung orang untuk jadi pinter
Saking pentingnya sarapan Nasi, konon Sri Susuhunan Paku Buwono IX (1861-1893) pernah memborong Nasi Liwet untuk para pengrawit (penabuh gamelan keraton) sebelum mereka melaksanakan tugasnya
Nasi Liwet menjadi salah satu icon kuliner khas Kota Solo.

Sekolah ibaratnya menanak Nasi
Dulu, orang Jawa menanak Nasi di KUALI
Cari sekolahpun juga harus yang berKUALItas

Untuk menjadi tanak, nasi dipindah ke dalam Dandang, kemudian yg tertinggal adalah kerak, namanya INTIP


Sekolah saja tidak cukup, kita mesti mencari ilmu lebih luas lagi ke tempat lain, supaya mendapatkan INTIP (INspirasi kreaTiP)


INTIP juga menjadi icon camilan khas Kota Solo.